Tahun 2008 ini merupakan kali ke-56 Amerika Serikat menyelengarakan pemilihan presiden. Ada dua tahapan dalam pemilu presiden di Amerika Serikat dimana rakyat sebagai pemilih.

Pertama adalah Primary dan Kaukus untuk menentukan delegasi konvensi dari masing-masing partai. Konvensi inilah yang menentukan capres dari masing-masing partai. Hal ini berguna agar calon yang dipilih benar-benar dikenal oleh masyarakat. Jadi tidak seperti di Indonesia, dimana untuk menentukan calon hanya dibahas ditingkat pengurus partai saja.

Kedua adalah memilih Electoral Votes yang akan duduk di Electoral College. Electoral College inilah yang menentukan siapa yang menjadi presiden. Jadi ketika pemilu berlangsung sebenarnya rakyat Amerika Serikat tidak memilih presiden secara langsung, tapi memilih wakil dari Partai Demokrat dan Partai Republik yang akan duduk dalam Electoral College.

Ketika sebuah partai memenangkan pemilihan di sebuah negara bagian, maka seluruh jatah Electoral Votes di negara bagian tersebut akan jatuh ke partai tersebut, meskipun partai tersebut hanya memperoleh kemenangan tipis.

Jumlah Electoral Votes masing-masing di negara bagian berbeda. Electoral Votes terdiri dari gabungan senator yang tiap negara bagian berjumlah dua dan anggota parlemen dari negara bagian tersebut. Jumlah anggota parlemen yang mewakili negara bagian tertentu didasarkan pada jumlah penduduknya. Misalnya, negara bagian Carlifonia yang memiliki jumlah penduduk terbanyak memiliki 55 anggota parlemen, hal ini berbeda dengan negara bagian Vermont yang hanya memiliki 3 anggota parlemen. Jadi untuk negara bagian Carlifonia, 55 anggota parlemen ditambah 2 anggota senat sehingga Carlifonia memiliki 57 wakil yang akan duduk di Ellectoral College.

Total Electoral Votes dari 50 negara bagian ditambah Washington adalah 538. Agar bisa meraih kursi presiden, seorang capres setidaknya harus meraih 270 Electoral Votes.

Berikut merupakan jumlah Electoral Votes di tiap negara bagian:

Negara Bagian

Jumlah

Negara Bagian

Jumlah

Alabama

Alaska

Arizona

Arkansas

Carlifonia

Colorado

Connecticut

Delaware

D.C

Florida

Georgia

Hawaii

Idaho

Illionis

Indiana

Iowa

Kansas

Kentucky

Lousiana

Maine

Maryland

Massachusetts

Michigan

Minnesota

Mississippi

Missouri

9

3

10

6

55

9

7

3

3

27

15

4

4

21

11

7

6

8

9

4

10

12

17

10

6

11

Montana

Nebraska

Nevada

New Hampshire

New Jersey

New Mexico

New York

North Carolina

North Dakota

Ohio

Oklahoma

Oregon

Pennsylvania

Rhode Island

South Carolina

South Dakota

Tennessee

Texas

Utah

Vermont

Virginia

Washington

West Virginia

Wisnconsin

Wyoming

3

5

5

4

15

5

31

15

3

20

7

7

21

4

3

8

11

34

5

3

13

11

5

10

3

Biasanya pemegang Electoral Vote adalah mereka yang berada dalam jajaran pimpinan partai di negara bagian, hal ini dikarenakan loyalitas mereka terhadap partai tidak diragukan.

Di Amerika Serikat tidak selalu capres yang mendapat suara terbanyak secara nasional otomatis menentukan terpilih sebagai presiden. Yang menentukan adalah beberapa banyak Electoral Votes yang dikumpulkannya. Berikut faktanya:

Tahun 1876, secara nasional Rutherford Hayes kalah dari Tilden, namun Hayes lah yang menjadi presiden karena menang di Electoral Votes

Tahun 1888, Benjamin Harrison menjadi presiden setelah menang di Electoral Votes, padahal sebelumnya secara Nasional Harrison kalah dari Grover Cleveland.

Tahun 2000, George Walker Bush mengalahkan Albert Gore Jr dalam Electoral Votes meskipun kalah secara nasional. Sehingga Bush berhak menjadi presiden.

*********

Sepakbola….

Indah…Menghibur…tapi Kejam..

Yup…kejam…

Kata itulah yang pantas menggambarkan bagaimana seorang Eduardo da Silva, pemain Arsenal kelahiran Brazil berkewarganegaraan Kroasia, dipaksa mengakhiri musim ini setelah cidera parah akibat tackle horor Martin Taylor ketika Arsenal di tahan imbang Birmingham City 2-2. Tidak hanya itu saja kaki Eduardo terancam diamputasi.

Tanggal 17 Februari 2008 Kosovo mendeklarasikan kemerdekaannya dari Serbia sebagai negara yang berdaulat. Kemerdekaan ini merupakan tindakan yang dilakukan sepihak karena tidak didukung oleh Dewan Keamanan PBB. Negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Inggris, dan beberapa negara Eropa mendukung kemerdekaan Kosovo, sementara Rusia, China, dan beberapa negara Eropa menolak dan tidak mengakui kemerdekaan Kosovo.
Bagaimana dengan Indonesia?

Sikap Indonesia yang belum mengakui kemerdekaan Kosovo merupakan tindakan yang tepat, karena untuk membuat keputusan harus dipertimbangkan mengenai kalkulasi untung rugi, terutama masalah kepentingan nasional.
Pertimbangan Indonesia adalah:

  1. Kemerdekaan Kosovo bukan hasil perjuangan melawan kolonialisme, tapi lebih merupakan hasil usaha separatisme yang didukung negara-negara Barat. Hal ini tentunya akan berpengaruh terhadap gerakan-gerakan separatis diberbagai negara untuk melakukan hal yang sama, termasuk di Indonesia.
  2. Berdirinya Kosovo tidak didukung PBB dan tidak sesuai dengan prinsip hukum internasional.
  3. Kosovo bukanlah negara anggota PBB, jadi tidak ada salahnya Indonesia belum memberikan pengakuan terhadap Kosovo.

Satu-satunya hal yang mungkin menjadi bahan pertimbangan Indonesia untuk mendukung kemerdekaan Kosovo adalah mayoritas rakyat Kosovo merupakan muslim, dimana Kosovo berpenduduk 2,1 juta, terdiri dari 90 % etnis Albania yang beragama Islamm, 5,3 % etnis Serbia yang Muslim Ortodox, dan lainnya etnis minoritas lain seperti Bosnia dan lain-lain.

Namun tentunya halitu bukan merupakan faktor pendorong yang kuat. suatu keputusan harus melalui proses yang bisa dilihat dengan jernih dan tidak dijadikan komoditas politik dan didorong sentimen agama. Dan yang paling penting, kebijakan Indonesia harus disesuaikan kepentingan nasionalnya.

Hubungan Iran – Israel mengalami kemunduran sejak peristiwa Revolusi Islam Iran pada tahun 1979 yang mengakibatkan tumbangnya rezim Shah yang berkuasa cukup lama. Pasca Revolusi Islam tersebut salah satu agenda politik Iran adalah anti-Israel, dimana Iran tidak mengakui keberadaan Israel sebagai negara dan mendukung perjuangan rakyat Palestina dalam menghadapi penjajahan Israel. Dalam menghadapi Israel dan membantu perjuangan Palestina, Israel antara lain memberikan bantuan dan dukungan kepada gerakan-gerakan perlawanan seperti di Palestina dan Lebanon Selatan, yaitu Jihad Islami dan Hizbullah. Dukungan tersebut berupa pelatihan militer, finansial, moril dan lain-lain. Selain itu pemerintah Iran juga memberikan bantuan finansial kepada Palestina yang diembargo oleh negara-negara Barat pasca kemenangan Hamas dalam pemilu di Palestiana. Selain cara-cara tersebut diatas pemerintah Iran juga menggunakan diplomasi publik dalam menghadapi Israel. Diplomasi publik berangkat dari asumsi bahwa kekuatan bersenjata, politik, dan militer bukan merupakan satu-satunya cara penyelesaian masalah. Diplomasi publik mensyaratkan kerja sama yang erat dengan media massa internasional. Diplomasi tradisional dan instrumen-instrumen militer tidak lagi mencukupi untuk menyelesaikan masalah-masalah politik dan keamanan.

Istilah diplomasi publik pertama digunakan oleh Edmund Gullion, seorang diplomat Amerika Serikat dan ketua the Fletcher School of Law and Diplomacy di Tufts University pada tahun 1965, Gullion mengatakan bahwa:

“public diplomacy . . . deals with the influence of public attitudes on the formationand execution of foreign policies. It encompasses dimensions of international relationsbeyond traditional diplomacy . . . [including] the cultivation by governmentsof public opinion in other countries; the interaction of private groups and interestsin one country with those of another . . . (and) the transnational flow of informationand ideas.” (www.rand.org).

Iran berusaha untuk mempengaruhi publik domestik dan internasional dengan cara mengangkat masalah Holocaust. Isu Holocaust bisa dikatakan sebagai perang wacana, karena selama ini terjadi perdebatan antara pihak yang mengakui kebenaran terjadinya Holocaust dengan pihak yang menyangkal kebenaran Holocaust atau biasa di sebut kaum revisionis dengan cara mengemukakan argumen-argumen yang mereka anggap benar. Masalah Holocaust di pilih oleh Iran karena masalah ini sangat sensitif bagi Israel, karena berdirinya negara Israel tidak lepas dari peristiwa Holocaust pada Perang Dunia II. Sebagai puncaknya maka tanggal 11-12 Desember 2006, pemerintah Iran menyelenggarakan Konferensi Holocaust. Dalam konferensi tersebut, publik berinteraksi dan berperan dalam pembentukan suatu opini baru dalam masyarakat internasional. Iran mencoba membuka kebenaran tentang peristiwa Holocaust yang dijadikan pembenaran Israel dalam menduduki Palestina dan dalam konferensi ini setiap orang berhak mengeluarkan pendapatnya mengenai Holocaust, tujuannya adalah membentuk opini publik mengenai kebenaran Holocaust.

Opini publik mempunyai kekuatan, yaitu:

  • Menjadi hukuman sosial
  • Melanggengkan atau menghapuskan nilai dan norma kemasyarakatan.
  • Mengancam karir politik seseorang.
  • Mempertahankan atau menghancurkan sebuah organisasi atau institusi.

Dalam hal ini kekuatan opini publik yang digunakan adalah kedua dan keempat, yaitu melanggengkan atau menghapuskan nilai dan norma kemasyarakatan, dan mempertahankan atau menghancurkan sebuah organisasi atau institusi. Iran mengadakan Konferensi Holocaust untuk mengungkap sejarah dibalik Holocaust yang selama ini dianggap benar oleh negara-negara Barat dan dijadikan alat propaganda Zionis Israel. Maksud dari Konferensi ini tentunya untuk mendelegitimasi keberadaan negara Israel, dan membentuk opini masyarakat internasional tentang kebenaran Holocaust. Zionisme Israel memperoleh pembenarannya dalam melaksanakan agenda politiknya setelah sebelumnya menanamkan dan melontarkan mitos-mitos yang berujung pada berdirinya negara Israel. Mitos itu antara lain, mitos bahwa mereka berhak atas tanah Palestina, mitos mereka bangsa terpilih, dan mitos kekejaman Nazi Hitler atas orang Yahudi yang terlalu dibesar-besarkan (Holocaust). Padahal mitos ini tidak lain adalah usaha propaganda dan pembentukan opini publik untuk mengabsahkan perilaku Zionisme Israel. Mitos ini juga dimaksudkan agar berbagai perilaku kekerasannya mendapat legitimasi atau tertutupi. Kesan yang timbul adalah mereka bangsa yang tertindas yang kemudian diperbolehkan mengatasi ketertindasan itu dengan menindas bangsa lain.

Konferensi Holocaust yang diadakan di Iran pada tahun 2006 merupakan suatu alat bagi Iran untuk membentuk dan melawan opini publik yang sudah ada mengenai kebenaran Holocaust. Selama ini Holocaust dipandang sebagai sesuatu yang suci sehingga orang yang berani menyangkalnya dianggap sebagai pelanggaran besar dan dianggap sebagai Anti-Semitisme, Anti-Israel, Anti-Zionisme, dan Naziisme.

Target dan tujuan dari pembentukan opini publik mengenai isu ini pun jelas, yaitu meruntuhkan kepercayaan publik mengenai kebenaran Holocaust yang selama ini dibuat oleh orang-orang Yahudi dan Zionis untuk mencapai tujuan politiknya di Timur Tengah. Sejak Oktober 2005, Mahmoud Ahmadinejad terus menggulirkan wacana yang mempertanyakan kebenaran sejarah Holocaust. Wacana itu dibuka untuk meruntuhkan legitimasi bagi Israel. Dalam pidatonya pada bulan Desember 2005, Ahmadidejad mengatakan: “Mereka telah mengarang-ngarang sebuah dongeng dengan judul “Pembantaian Massal Orang Yahudi” dan mereka memandang cerita tersebut lebih tinggi daripada Tuhan, agama, dan nabi-nabi mereka sendiri…(orang Barat) memperlakukan mereka yang menyangkal dongeng tersebut dengan sangat keras namun tidak melakukan apapun kepada mereka yang tidak mengakui Tuhan, agama, dan nabi-nabi mereka…”

Ahmadinejad pun mengusulkan agar Eropa menyediakan sebidang tanah bagi warga Yahudi yang dipercaya menjadi korban Holocaust, mengingat pelaku pembantaian tersebut adalah warga Eropa. Opini publik yang ingin dibuat oleh Ahmadinejad melalui Konferensi Holocaust diharapkan bisa menarik dukungan masyarakat internasional untuk menentang keberadaan Israel.

Jadi dapat dikatakan bahwa Konferensi Holocaust yang diselenggarakan Iran merupakan salah satu bentuk diplomasi publik.

Jadi ceritanya kan gini…
Semua berawal dari Munaslub di Makassar pada April 2007 yang secara mengejutkan agendanya diubah menjadi Munas ke-34 yang secara aklamasi menetapkan Nurdin Halid sebagai ketua umum PSSI periode 2007-2011. Hal itu dipertanyakan Federasi Sepakbola Internasional FIFA yang meminta PSSI melakukan pemilihan ulang ketua umum melalui Assiciation Committee karena pemilihan tersebut menyalahi prosedur.
Trus beberapa waktu kemudian diperparah dengan vonis dua tahun penjara Nurdin Halid karena terlibat korupsi. Sebagai catatan dalam statuta FIFA, seseorang yang terlibat tindakan kriminal dilarang memimpin organisasi sepakbola suatu negara.
Dalam hal ini FIFA kembali mendesak dan memberi peringatan kepada PSSI untuk segera menuntaskan persoalan krisis kepemimpinan. Apa yang terjadi? PSSI tidak bergeming dan membela habis-habisan Nurdin Halid.
Yang jadi masalah apabila FIFA benar-benar menjatuhkan sanksi terhadap Indonesia…mau jadi apa sepak bola kita? Biasanya sanksi yang didapat adalah larangan Tim Nasional mengikuti even internasional…hmmmm sepakbola kita bakalan semakin terpuruk.

Trus kejadian ini terjadi.
Ketika gue membaca surat pembaca dalam Forum Pembaca di tabloid BOLA edisi Selasa, 1 Januari 2008, gue tertarik dengan tulisan “Dukungan Untuk Nurdin” yang ditulis oleh saudara AD. Sungguh tulisan yang sangat menggelikan.
Cuma ingin menanggapi…berikut ini adalah tulisannya AD per paragraph dan tanggapan gue. Tulisan yang berwarna merah adalah kutipan surat AD.
—————————————–
Dukungan Untuk Nurdin


Saya membaca di berbagai media, hampir semua penggemar sepakbola di Indonesia getol menuntut Nurdin Halid untuk mundur dari jabatannya sebagai ketua umum PSSI kharena khawatir FIFA akan menjatuhkan sanksi keras kepada PSSI. Membaca ini, saya merasa sedih dan malu dengan sikap pengecut orang-orang kita terhadap FIFA, kenapa?

Coy… darimana ente bisa katakan kalo sikap tersebut adalah sikap pengecut? Justru orang-orang kita tersebut peduli terhadap sepakbola Indonesia. Mereka nggak mau gara-gara masalah ini sepakbola kita terpuruk dan terisolir dari dunia internasional.
FIFA adalah organisasi sepakbola internasional…induknya organisasi sepakbola di bumi ini. Jadi kita harus tunduk terhadap aturan-aturan yang ditetapkan FIFA. Coba bayangin kalo Indonesia benar-benar dikenai sanksi oleh FIFA? Apa yang terjadi? Indonesia gak akan pernah bisa bertanding dalam level internasional. Akibatnya… (pikir sendiri!).
Bukannya pengecut…tapi kita peduli dengan sepakbola Indonesia.

Agaknya banyak diantara kita yang lupa sejarah bahwa bangsa kita yang besar ini di jaman Soekarno dulu tak pernah mau didikte oleh bangsa lain, bahkan oleh organisasi sebesar PBB sekalipun. Oleh karena itu, kita pernah gagah berani memutuskan untuk keluar sebagai anggota PBB daripada didikte.

Didikte???
Gue kurang ngerti deh… Oke pada saat itu Indonesia memang keluar dari PBB, tapi setahu gue Indonesia keluar dari PBB sebagai bentuk protes karena Malaysia (yang menurut Indonesia merupakan negara boneka Inggris dan simbol kolonialisme dan imperialisme) menjadi anggota tidak tetap DK PBB. Lalu Soekarno membentuk Conference of New Emerging Forces (Konferensi Kekuatan Baru) atau yang lebih dikenal dengan nama CONEFO sebagai alternatif. Sebagai tandingan Olimpiade, Soekarno bahkan menyelenggarakan GANEFO (Games of the New Emerging Forces) yang diselenggarakan di Senayan tahun 1963.
Jadi menurut gue didikte darimana?
Well… kayaknya si AD ini adalah orang yang anti terhadap Barat…betul kayak gitu??
Ya jangan disamakan dong…masalah politik dengan urusan sepakbola… FIFA bukan kaki tangan negara-negara Barat. Kalo misalnya Indonesia dengan gagah berani keluar dari FIFA…trus mo ngapain? Bikin organisasi sepakbola sendiri? Siapa yang mau ikut? Huh…

Cobalah renungkan, apa sih untungnya tunduk pada ancaman FIFA dengan mengorbankan salah satu putra terbaik bangsa kita yang katanya sedang tersandung masalah korupsi? Apakah prestasi sepakbola kita otomatis akan meroket bila Nurdin kita korbankan? Jawabannya adalah tidak.

Sebentar….aku renungkan dulu….
mmmm….untungnya adalah..
Hal itu menjadi bukti bahwa Indonesia tunduk dan patuh terhadap aturan-aturan yang berlaku yang dibuat berdasarkan keputusan bersama. Dan menghindarkan sepakbola Indonesia dari kehancuran.
Contohlah Yunani. Pada tahun 2005 (kalo gak salah) Yunani yang notabene adalah juara Eropa 2004. dijatuhi sanksi oleh FIFA berupa larangan ikut mengikuti pertandingan sepakbola dalam level internasional karena pemerintah Yunani ikut campur dalam urusan persepakbolaan di Yunani, apa yang terjadi? Yunani langsung menuruti kemauan FIFA. Hal tersebut karena Yunani tidak ingin sepakbolanya hancur.
Lagian siapa sih yang mau Indonesia dijatuhi sanksi FIFA?
Bagaimana bisa seorang narapidana memimpin sebuah organisasi, bila dalam statuta induk organisasinya melarang hal tersebut?
Putra terbaik??? Ooooh… (okelah untuk beberapa orang, dia kan CUMA korupsi doang..)

Kalaupun akhirnya FIFA berani memberikan sanksi pada PSSI, saya percaya sepakbola kita tidak akan hancur. Hal ini justru akan mengangkat harga diri bangsa kita, yang akhir-akhir ini sering dilecehkan bahkan oleh tetangga sendiri karena dengan gagah berani menentang keputusan FIFA.

Berani??? Ya pastilah…mereka kan punya hak! Gimana toh kamu ini!
Emang gak hancur…tapi lenyap dari dunia internasional…bahkan mungkin orang gak tau kalo Indonesia pernah punya Tim Nasional sepakbola.
Ya ampuuuun…harga diri yang mana yang mau diangkat???? Sadar gak sih nih orang nulis surat kayak gini…
Indonesia memang dalam berbagai hal sering dilecehkan oleh bangsa lain…tapi perlu diingat penyebabnya adalah Indonesia sendiri..kita sendiri.
Coba aja masalah TKI, jika Indonesia tidak sembarangan mengirim TKI yang minim ketrampilan dan keahlian gak mungkin TKI kita disiksa…karena kebanyakan majikan disana sebel dengan TKI kita yang gak bisa apa-apa. Jadi dalam hal ini pemerintah paling tidak harus mencari dan menciptakan SDM yang berkualitas.
Trus masalah kesenian Indonesia yang diklaim oleh negara lain. Salah satu penyebabnya adalah kita kurang mencintai kebudayaan kita sendiri Sekarang saya tanya…apakah kamu mencintai kesenian kita? Apakah kamu merasa enjoy melihat Reog Ponorogo, mendengar lagu campur sari, atau suka sama Wayang Kulit, atau kesenian yang lain? Kebanyakan generasi muda saat ini gak mau yang kayak gituan…hal inilah yang membuat negara lain berusaha mengklaim kesenian kita, karena mereka tau kalo anak-anak muda di Indonesia kurang tertarik dengan kesenian Indonesia. Hal itu ditambah dengan kurangnya perhatian pemerintah terhadap pelaku-pelaku seni di Indonesia dalam hal ekonomi.
Dan masalah-masalah yang lain…
DAN AKAN SEMAKIN DILECEHKAN JIKA INDONESIA BERANI MELANGGAR ATURAN YANG DITETAPKAN DAN MENENTANG KEPUTUSAN FIFA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Denger ya…itu sama aja dengan memberi tai kebo di mukamu yang jelek!!!

Tanpa menjadi anggota FIFA, anak-anak kampung dengan gembira masih bisa bermain bola. Lebih baik kita hanya bisa bermain ditingkat kampung atau kabupaten tanpa harus merasa malu dan sakit hati karena berkali-kali kalah terus setiap bertanding melawan tim-tim luar negeri. Namun, andaikata FIFA akhirnya tak jadi menjatuhkan saksi kepada PSSI, kita akan dipandang dengan kagum oleh dunia karena kita adalah negara pertama di dunia yang berani menenatang keputusan FIFA dan hal ini akan menjadi contoh bagus bagi negara lain untuk mengikuti jejak kita menolak keputusan FIFA.

Dasar kampungan!!!
Coba kamu tanyakan sama pemain bola manapun, apa harapan dan keinginan yang ingin dicapai oleh pemain sepakbola? Jawabanya pasti adalah dipanggil membela Tim Nasional negaranya dan memberikan yang terbaik bagi negaranya.
Trus selain itu juga klub-klub Indonesia akan mengalami penurunan pendapatan jika Indonesia dilarang mengirim wakilnya di Liga Champion Asia (sekarang aja AFC sudah melarang Indonesia mengirim wakilnya karena PSSI gak tau kapan kompetisi musim 2007/2008 yang dibuatnya selesai)
Trus Liga Indonesia akan dibawa kemana?
Kagum???Guuuoooobbbblllloookkkkk!!!
Kita akan dikenal sebagai negara yang gak tau malu, negara yang tidak bermoral, dan negara yang bodoh. Sapa yang mau mencontoh negara dengan kelakuan kayak gitu?

Saya berharap Nurdin dan pengurus PSSI lainnya tetap tegar menghadapi ancaman FIFA maupun rongrongan orang-orang yang memanfaatkan momentum ini untuk memaksa anda sekalian mundur.

Iya…tetaplah tegar di balik jeruji sambil merenung apa yang telah terjadi dengan dirimu dan sepak bola kita.
Kami akan bangga terhadap anda apabila dengan sikap ksatria, anda melepas jabatan anda.
Wis gitu tok aja…

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!