Semua berawal dari Munaslub di Makassar pada April 2007 yang secara mengejutkan agendanya diubah menjadi Munas ke-34 yang secara aklamasi menetapkan Nurdin Halid sebagai ketua umum PSSI periode 2007-2011. Hal itu dipertanyakan Federasi Sepakbola Internasional FIFA yang meminta PSSI melakukan pemilihan ulang ketua umum melalui Assiciation Committee karena pemilihan tersebut menyalahi prosedur.
Trus beberapa waktu kemudian diperparah dengan vonis dua tahun penjara Nurdin Halid karena terlibat korupsi. Sebagai catatan dalam statuta FIFA, seseorang yang terlibat tindakan kriminal dilarang memimpin organisasi sepakbola suatu negara.
Dalam hal ini FIFA kembali mendesak dan memberi peringatan kepada PSSI untuk segera menuntaskan persoalan krisis kepemimpinan. Apa yang terjadi? PSSI tidak bergeming dan membela habis-habisan Nurdin Halid.
Yang jadi masalah apabila FIFA benar-benar menjatuhkan sanksi terhadap Indonesia…mau jadi apa sepak bola kita? Biasanya sanksi yang didapat adalah larangan Tim Nasional mengikuti even internasional…hmmmm sepakbola kita bakalan semakin terpuruk.
Trus kejadian ini terjadi.
Ketika gue membaca surat pembaca dalam Forum Pembaca di tabloid BOLA edisi Selasa, 1 Januari 2008, gue tertarik dengan tulisan “Dukungan Untuk Nurdin” yang ditulis oleh saudara AD. Sungguh tulisan yang sangat menggelikan.
Cuma ingin menanggapi…berikut ini adalah tulisannya AD per paragraph dan tanggapan gue. Tulisan yang berwarna merah adalah kutipan surat AD.
—————————————–
Dukungan Untuk Nurdin
Saya membaca di berbagai media, hampir semua penggemar sepakbola di Indonesia getol menuntut Nurdin Halid untuk mundur dari jabatannya sebagai ketua umum PSSI kharena khawatir FIFA akan menjatuhkan sanksi keras kepada PSSI. Membaca ini, saya merasa sedih dan malu dengan sikap pengecut orang-orang kita terhadap FIFA, kenapa?
Coy… darimana ente bisa katakan kalo sikap tersebut adalah sikap pengecut? Justru orang-orang kita tersebut peduli terhadap sepakbola Indonesia. Mereka nggak mau gara-gara masalah ini sepakbola kita terpuruk dan terisolir dari dunia internasional.
FIFA adalah organisasi sepakbola internasional…induknya organisasi sepakbola di bumi ini. Jadi kita harus tunduk terhadap aturan-aturan yang ditetapkan FIFA. Coba bayangin kalo Indonesia benar-benar dikenai sanksi oleh FIFA? Apa yang terjadi? Indonesia gak akan pernah bisa bertanding dalam level internasional. Akibatnya… (pikir sendiri!).
Bukannya pengecut…tapi kita peduli dengan sepakbola Indonesia.
Agaknya banyak diantara kita yang lupa sejarah bahwa bangsa kita yang besar ini di jaman Soekarno dulu tak pernah mau didikte oleh bangsa lain, bahkan oleh organisasi sebesar PBB sekalipun. Oleh karena itu, kita pernah gagah berani memutuskan untuk keluar sebagai anggota PBB daripada didikte.
Didikte???
Gue kurang ngerti deh… Oke pada saat itu Indonesia memang keluar dari PBB, tapi setahu gue Indonesia keluar dari PBB sebagai bentuk protes karena Malaysia (yang menurut Indonesia merupakan negara boneka Inggris dan simbol kolonialisme dan imperialisme) menjadi anggota tidak tetap DK PBB. Lalu Soekarno membentuk Conference of New Emerging Forces (Konferensi Kekuatan Baru) atau yang lebih dikenal dengan nama CONEFO sebagai alternatif. Sebagai tandingan Olimpiade, Soekarno bahkan menyelenggarakan GANEFO (Games of the New Emerging Forces) yang diselenggarakan di Senayan tahun 1963.
Jadi menurut gue didikte darimana?
Well… kayaknya si AD ini adalah orang yang anti terhadap Barat…betul kayak gitu??
Ya jangan disamakan dong…masalah politik dengan urusan sepakbola… FIFA bukan kaki tangan negara-negara Barat. Kalo misalnya Indonesia dengan gagah berani keluar dari FIFA…trus mo ngapain? Bikin organisasi sepakbola sendiri? Siapa yang mau ikut? Huh…
Cobalah renungkan, apa sih untungnya tunduk pada ancaman FIFA dengan mengorbankan salah satu putra terbaik bangsa kita yang katanya sedang tersandung masalah korupsi? Apakah prestasi sepakbola kita otomatis akan meroket bila Nurdin kita korbankan? Jawabannya adalah tidak.
Sebentar….aku renungkan dulu….
mmmm….untungnya adalah..
Hal itu menjadi bukti bahwa Indonesia tunduk dan patuh terhadap aturan-aturan yang berlaku yang dibuat berdasarkan keputusan bersama. Dan menghindarkan sepakbola Indonesia dari kehancuran.
Contohlah Yunani. Pada tahun 2005 (kalo gak salah) Yunani yang notabene adalah juara Eropa 2004. dijatuhi sanksi oleh FIFA berupa larangan ikut mengikuti pertandingan sepakbola dalam level internasional karena pemerintah Yunani ikut campur dalam urusan persepakbolaan di Yunani, apa yang terjadi? Yunani langsung menuruti kemauan FIFA. Hal tersebut karena Yunani tidak ingin sepakbolanya hancur.
Lagian siapa sih yang mau Indonesia dijatuhi sanksi FIFA?
Bagaimana bisa seorang narapidana memimpin sebuah organisasi, bila dalam statuta induk organisasinya melarang hal tersebut?
Putra terbaik??? Ooooh… (okelah untuk beberapa orang, dia kan CUMA korupsi doang..)
Kalaupun akhirnya FIFA berani memberikan sanksi pada PSSI, saya percaya sepakbola kita tidak akan hancur. Hal ini justru akan mengangkat harga diri bangsa kita, yang akhir-akhir ini sering dilecehkan bahkan oleh tetangga sendiri karena dengan gagah berani menentang keputusan FIFA.
Berani??? Ya pastilah…mereka kan punya hak! Gimana toh kamu ini!
Emang gak hancur…tapi lenyap dari dunia internasional…bahkan mungkin orang gak tau kalo Indonesia pernah punya Tim Nasional sepakbola.
Ya ampuuuun…harga diri yang mana yang mau diangkat???? Sadar gak sih nih orang nulis surat kayak gini…
Indonesia memang dalam berbagai hal sering dilecehkan oleh bangsa lain…tapi perlu diingat penyebabnya adalah Indonesia sendiri..kita sendiri.
Coba aja masalah TKI, jika Indonesia tidak sembarangan mengirim TKI yang minim ketrampilan dan keahlian gak mungkin TKI kita disiksa…karena kebanyakan majikan disana sebel dengan TKI kita yang gak bisa apa-apa. Jadi dalam hal ini pemerintah paling tidak harus mencari dan menciptakan SDM yang berkualitas.
Trus masalah kesenian Indonesia yang diklaim oleh negara lain. Salah satu penyebabnya adalah kita kurang mencintai kebudayaan kita sendiri Sekarang saya tanya…apakah kamu mencintai kesenian kita? Apakah kamu merasa enjoy melihat Reog Ponorogo, mendengar lagu campur sari, atau suka sama Wayang Kulit, atau kesenian yang lain? Kebanyakan generasi muda saat ini gak mau yang kayak gituan…hal inilah yang membuat negara lain berusaha mengklaim kesenian kita, karena mereka tau kalo anak-anak muda di Indonesia kurang tertarik dengan kesenian Indonesia. Hal itu ditambah dengan kurangnya perhatian pemerintah terhadap pelaku-pelaku seni di Indonesia dalam hal ekonomi.
Dan masalah-masalah yang lain…
DAN AKAN SEMAKIN DILECEHKAN JIKA INDONESIA BERANI MELANGGAR ATURAN YANG DITETAPKAN DAN MENENTANG KEPUTUSAN FIFA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Denger ya…itu sama aja dengan memberi tai kebo di mukamu yang jelek!!!
Tanpa menjadi anggota FIFA, anak-anak kampung dengan gembira masih bisa bermain bola. Lebih baik kita hanya bisa bermain ditingkat kampung atau kabupaten tanpa harus merasa malu dan sakit hati karena berkali-kali kalah terus setiap bertanding melawan tim-tim luar negeri. Namun, andaikata FIFA akhirnya tak jadi menjatuhkan saksi kepada PSSI, kita akan dipandang dengan kagum oleh dunia karena kita adalah negara pertama di dunia yang berani menenatang keputusan FIFA dan hal ini akan menjadi contoh bagus bagi negara lain untuk mengikuti jejak kita menolak keputusan FIFA.
Dasar kampungan!!!
Coba kamu tanyakan sama pemain bola manapun, apa harapan dan keinginan yang ingin dicapai oleh pemain sepakbola? Jawabanya pasti adalah dipanggil membela Tim Nasional negaranya dan memberikan yang terbaik bagi negaranya.
Trus selain itu juga klub-klub Indonesia akan mengalami penurunan pendapatan jika Indonesia dilarang mengirim wakilnya di Liga Champion Asia (sekarang aja AFC sudah melarang Indonesia mengirim wakilnya karena PSSI gak tau kapan kompetisi musim 2007/2008 yang dibuatnya selesai)
Trus Liga Indonesia akan dibawa kemana?
Kagum???Guuuoooobbbblllloookkkkk!!!
Kita akan dikenal sebagai negara yang gak tau malu, negara yang tidak bermoral, dan negara yang bodoh. Sapa yang mau mencontoh negara dengan kelakuan kayak gitu?
Saya berharap Nurdin dan pengurus PSSI lainnya tetap tegar menghadapi ancaman FIFA maupun rongrongan orang-orang yang memanfaatkan momentum ini untuk memaksa anda sekalian mundur.
Iya…tetaplah tegar di balik jeruji sambil merenung apa yang telah terjadi dengan dirimu dan sepak bola kita.
Kami akan bangga terhadap anda apabila dengan sikap ksatria, anda melepas jabatan anda.
Wis gitu tok aja…