“Saudara-saudara rakyat Surabaya.
Bersiaplah! Keadaan genting.
Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
Jangan mulai menembak.
Baru kalau kita ditembak.
Maka kita akan ganti menyerang mereka itu.
Kita tunjukkan bahwa kita itu adalah orang yang benar-benar ingin merdeka.
Dan untuk kita saudara-saudara.
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
Semboyan kita tetap.
Merdeka atau mati.
Dan kita yakin, Saudara-saudara.
Akhirnya, pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita.
Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
Percayalah Saudara-saudara!
Tuhan akan melindungi kita sekalian.
Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Merdeka!”
Masih ingatkah atau taukah dengan pidato tersebut?
Yup…Bung Tomo
Bung Tomo yang merupakan ikon perjuangan Arek-Arek Suroboyo melawan penjajah pada tahun 1945 sehingga tiap tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan dan menjadikan Surabaya sebagai Kota Pahlawan, akhirnya kembali tidak masuk daftar pahlawan nasional yang akan disahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara menjelang peringatan Hari Pahlawan 10 November nanti…
Ternyata untuk menjadi seorang pahlawan yang diakui oleh negara tidak hanya cukup dengan mengorbankan seluruh jiwa dan raganya…tidak cukup hanya MATI…
Nama Bung Tomo sebenarnya sudah berkali-kali diusulkan menjadi pahlawan. Baik oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur maupun DPRD Jatim. Namun, pemerintah, rupanya, tidak menggubris usul tersebut. Padahal, dalam sejarah kemerdekaan, nama Bung Tomo menjadi ikon hari pahlawan, sebagai tokoh utama dalam pertempuran 10 November 1945 di Hotel Oranye, Surabaya.
Tapi bagaimanapun juga…bagi masyarakat Surabaya dan Indonesia pada umumnya… Bung Tomo lebih dari sekedar pahlawan…pahlawan yang tidak perlu penghargaan…pahlawan yang bersedia mati demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia…Pahlawan yang selalu ada di setiap hati rakyat Indonesia.
—————————-
Syarat-syarat menjadi seorang pahlawan:
-
Rela Berkorban Demi Negara
Ex: Pangeran Diponegoro yang bersedia mati dan melawan penjajah hingga titik darah penghabisan
-
Lolos Administrasi
Untuk mendapatkan gelar kepahlawanan harus melewati tahap-tahap tertentu. Pertama harus diusulkan atau mengajukan permohonan. Alur proses pengusulan adalah sepenuhnya dari masyarakat atau perwakilan masyarakat seperti organisasi masyarakat, organisasi sosial, ataupun pemerintah daerah. Setelah itu, syarat lainnya, nama yang diajukan tersebut harus diseminarkan. Tentunya didukung data-data valid mengenai sejarah dan jasa-jasanya dan untuk mengetahui, apakah ada pihak yang berkeberatan dengan pengangkatan tersebut. ‘Dari situ kemudian diusulkan kepada Badan Pembina Pahlawan Pusat yang bersifat independen untuk diserahkan kepada Departemen Sosial. -
Mempunyai Pangkat Yang Tinggi
Pernah gak dengar anak buahnya Jenderal Sudirman yang ikut berperang atau yang ikut membawa tandu mati dalam peperangan mendapat gelar pahlawan? Kalo veteran iya…(itupun kalo dia terdaftar)..(pahlawan dengan veteran beda gak sih??) - Memakai Kostum Unik
-
Jangan Bertingkah Konyol
Ex: Zinedine Zidane yang merupakan pahlawan kesebelasan Perancis melakukan tindakan bodoh saat final World Cup 2006 dengan menanduk dada Marco Materazzi ketika Perancis bertemu Italia… Pada pagi harinya muncul tulisan begini di headline: “Zizou…From Hero to Zero”. - Harus Mati


heheheheheheheheheheheee…. menarik2..!!!
HIDUP MATERAZZI.
Loh kok !!
Saya ingin menjadi PAHLAWAN kesiangan aja..
Hehehehe
Mas topan..mending jadi pahlawan tanpa tanda jasa aja…tapi harus ngambil PGSD dulu…